Minggu, 05 April 2009

Adab membaca Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an dlm bentuk irama muzik adalah satu bid’ah. As-Suyuti dlm Al-Itqan dan Ar-Rafi’ie did lm I’jazul Qur'an menyebut: Para ulama menyelar perbuatan org yg membaca al-quran seperti nyanyian yg diiringi muzik sebagai perbuatan bid’ah. Di antara perbuatan bid’ah dlm qiraat dan ada’ adalah talhin (melagukan bacaan yg hingga sekarang ini masih ada dan disebarluas oleh orang yang hatinya terpikat dan terpegun dgnnya).
Mereka membaca Al-Qur'an sdmkn rupa layaknya sebuah irama atau nyanyian. Di antara bentuk talhin:
  1. Tar’id ~ membaca dgn menggeletar suara seolah2 suara yg menggeletar kerana kesakitan atau kedinginan
  2. Tarqis ~ dengan sengaja berhenti pada huruf mati namun kmdn dihentakkan secara tiba2 disertai dgn gerakan tubuh, seakan2 sedang melompat atau berjalan
  3. Tatrib ~ mendendangkan dan melagukan al-quran sehingga membaca panjang (mad) bukan pada tempatnya atau menambahnya bila kebetulan tepat pada tempatnya
  4. Tahzin ~ membaca dgn nada sugul seperti org bersedih sampai hampir menangis
  5. Tardad ~ apabila sekelompok qari meniru bacaan salah satu gaya di atas. Bacaan alquran itu bersifat tahqiq yakni memberikan kpd setiap huruf akan haknya sesuai dgn ketentuan yg telah ditetapkan para ulama dan disertai tartil (baca dgn perlahan2 dgn tenang serta suara lembut), bersifat hadar (membaca cepat dgn tetap memperhatikan syarat2 pengucapan yg benar dan ada pula yg bersifat tadwir yakni pertengahan antara tartil dan hadar.
. "Dan bacalah Al-Qur'an itu dgn tartil" (alMuzzamil: 4 )
Tafsir Ibn Katsir Dari Anas bin Malik ra: tartil ialah memanjangkan mad. Dari Ummu Salamah ra," bacaan tartil ialah membaca ayat demi ayat (Baca dan Waqaf). Dari alBarra' bin 'Aazib ra, "hiasilah Al-Qur'an dgn suaramu." (Bukhari-Muslim) "Bukanlah dari kami yg tidak melagukan Al-Qur'an" (Bukhari-Abu Daud-Ahmad-Darimi) Maksud 'yataghanna' (berlagu) itu ialah bukan alghina' (seni suara dan nyanyian) Kata Sufyan bin Uyainah sebagaimana yg dikhabarkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud, Al-Qur'an tidak memerlukan irama lagu dan nyanyian. Kata pula alImam asySyafi'iy ra," maksud yataghanna ialah " meninggikan suara ketika membaca Al-Qur'an" (dari Ibn Abi Dunya) Kata Syaykhul Islam Ibn Hajar alHaithami (Kaff al Ri'a':18) " Fasiq hukumnya jika membaca berlagu dgn menambah huruf atau mengurangi huruf atau menghiasinya." Kata Imam Ahmad ibn Hanbal ra," membaca Al-Qur'an dgn tabi'at alghina' (irama lagu dan nyanyian) adalah perkara baru (bid'ah), melainkan ia mengikut tabi'at Abu Musa alAsy'ari) (Ibn Abi Dunya, Damm alMalahi) Rumusan: Maksud lagu yg benar ialah membaca mengikut hukum tajwid yg betul dan suara yg baik. Bukan secara alghina' yakni secara qasidah dan lagu/tabi'at kedaerahan karena ia merusak/menambah/mengurangkan huruf2 Al-Qur'an.

Sumber : Al Ahkam.net

0 komentar:

Posting Komentar

 
;