Minggu, 05 April 2009

Ibadah

B A D A H
I. W U D H UA. Fardhu-FardhunyaFardhu-fardhu wudhu yaitu:1. Niat.2. Membasuh muka satu kali.3. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.4. Menyapu kepala. Yang diterima dari Rosulullah mengenai hal ini ada 3 cara: * Menyapu seluruh kepala* Menyapu hanya pada serbannya saja * Menyapu ubun-ubun serta serban5. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata-kaki.6. Tertib.
B. Sunat-Sunat Wudhu dan Anggota WudhuSunat-sunat wudhu dan anggota wudhu yaitu: 1. Memulai dengan basmalah2. Menggosok gigi atau siwak.3. Mencuci dua telapak tangan sewaktu hendak memulai wudhu.4. Berkumur-kumur.5. Memasukkan air ke hidung, kemudian mengeluarkannya.6. Membasuh wajah/muka. Batas muka itu panjangnya ialah dari puncak kening sampai dagu, sedang lebarnya dari pinggir telinga sampai ke pinggir telinga yang satu lagi.7. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku.8. Menyapu kepala (baca point A no.4).9. Menyapu kedua telinga. Menurut sunnah ialah menyapu bagian dalamnya dengan kedua telunjuk, serta bagian luar dengan kedua ibu jari, yakni dengan memakai air untuk kepala, karena ia termasuk bagian dari padanya.10. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki.11. Membasuh tiga-tiga kali.C. Yang Membatalkan WudhuAda beberapa hal yang menyebabkan batalnya wudhu, yaitu:Apa-apa yang keluar dari salah satu dari kedua jalan, baik muka maupun belakang (qubul dan dubur). Termasuk di dalamnya yang terdapat di bawah ini:1. Kencing2. Buang air besar3. Kentut4. Mani, madzi dan wadi5. Tidur nyenyak hingga tiada kesadaran lagi, tanpa tetapnya pinggul di atas lantai. Jika tidur itu sementara duduk, dan duduknya itu dalam keadaan tetap, tidaklah batal wudhunya.6. Hilang akal, baik karena gila, pingsan, mabuk atau disebabkan obat, biar sedikit atau banyak, dan tidak ada bedanya duduk itu tetap di tempatnya atau tidak, karena ketidaksadaran semua ini lebih hebat dari sewaktu tidur, dan hal ini telah disepakati oleh para ulama.7. Menyentuh kemaluan tanpa ada batas.
D. Hal-hal Yang Tidak Membatalkan WudhuYaitu:1. Menyentuh perempuan/muhrimnya tanpa ada pembatas.2. Keluar darah dari jalan yang tidak lazim, baik disebabkan luka karena berbekam, atau darah hidung, biar sedikit ataupun banyak.3. Muntah, biar sepenuh mulut atau kurang dari itu.4. Kebimbangan orang yang telah berwudhu mengenai hadats. Bila seorang yang telah bersuci itu bimbang, apakah ia telah berhadats atau belum, maka kebimbangan itu tidak jadi soal dan wudhunya tidak batal, baik ia sedang shalat, maupun diluarnya, sampai ia yakin betul telah berhadats.5. Gelak terbahak di waktu shalat tidaklah membatalkan wudhu.6. Memandikan mayat.II. T A Y A M U MA. BatasannyaMenurut logat (bahasa), tayamum itu artinya ialah menyengaja. Sedangkan menurut syaraf ialah menyengaja tanah untuk penghapus muka dan kedua tangan dengan maksud dapat melakukan shalat dan lain-lain.B. Anggota TayamumDari pengertian di atas dapat diketahui bahwa anggota tayamum adalah muka dan kedua tangan.C. Tata Cara BertayamumTata caranya yaitu:1. Niat.2. Membaca basmalah.3. Memukulkan kedua telapak tangan ke tanah yang suci, lalu menghembuskannya, kemudian menyapukannya ke muka, begitu pun kedua belah tangannya sampai ke pergelangan.D. Yang MembatalkannyaTayamum itu jadi batal oleh segala yang membatalkan wudhu, karena ia merupakan ganti dari padanya. Begitu pun ia batal disebabkan adanya air bagi orang yang tidak mendapatnya, atau bila telah dapat memakainya bagi orang yang tidak sanggup pada mulanya.Tetapi bila seseorang melakukan shalat dengan tayamum kemudian ia menemukan air, atau bila ia dapat menggunakannya setelah sholat selesai, tidaklan wajib ia mengulang walapun waktu sholat masih ada.Tetapi bila menemukan air itu, atau dapat menggunakannya setelah mulai shalat tapi belum selesai, maka tayamum jadi batal dan ia harus mengulangi bersuci dengan memakai air.Dan seandainya orang junub atau perempuan haid bertayamum dikarenakan salah satu sebab yang membolehkan tayamum itu dan ia shalat, tidaklah wajib ia mengulangnya. Hanya ia wajib mandi bila telah dapat menggunakan air.III. S H A L A T
A. Shalat Fardhu1. Shalat fardhu ada 5 yaitu:2. Shalat Shubuh3. Shalat Dhuhur4. Shalat eAshar5. Shalat Maghrib6. Shalat eIsya1. Shalat ShubuhShalat Shubuh ada 2 rakafat. Waktu mengerjakannya yaitu saat terbit fajar shadik dan berlangsung hingga terbitnya matahari. Disunatkan untuk menyegerakannya di awal waktu.2. Shalat DhuhurShalat Dhuhur ada 4 rakafat. Waktu mengerjakannya bermula dari tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit dan berlangsung sampai bayangan sesuatu itu sama panjang dengan selain bayangan sewaktu tergelincir.Disunatkan tafkhir atau mengundurkan shalat Dhuhur itu dari awalnya waktu hari amat panas hingga tiada mengganggu kekhusyukan, sebaliknya disunatkan tafjil atau menyegerakan pada saat-saat lain dari demikian.3. Shalat 'AsharShalat eAshar ada 4 rakafat. Waktu mengerjakannya bermula bila bayang-bayang suatu benda itu telah sama panjang dengan benda itu sendiri, yakni setelah bayangan waktu tergelincir, dan berlangsung sampai terbenamnya matahari.Waktu fadhilah/utama ialah pada awal waktunya, dan penting menyegerakannya pada hari mendung.Shalat eAshar merupakan shalat Wustha, artinya pertengahan.4. Shalat MaghribShalat Maghrib ada 3 rakafat. Waktu mengerjakannya bila matahari telah terbenam dan tersembunyi di balik tirai, dan berlangsung sampai terbenam syafak, atau awan merah.5. Shalat eIsyaShalat eIsya ada 4 rakafat. Waktu mengerjakannya bermula di waktu lenyapnya syafak merah dan berlangsung hingga seperdua malam.Disunatkan mentafkhirkan shalat eIsya dari awal waktunya (mengundurkan shalat eIsya sampai waktu ikhtiar yakni separuh malam).B. Syarat-Syarat ShalatSyarat-syarat yang mendahului shalat dan wajib dipenuhi oleh orang yang hendak mengerjakannya, dengan ketentuan bila ketinggalan salah satu diantaranya, maka shalatnya batal, ialah:1. Mengetahui tentang masuknya waktu.Bila telah yakin waktu shalat telah tiba maka diperbolehkan untuk shalat, baik itu diperoleh dari pemberitaan orang-orang yang dipercaya, atau seruan adzan dari muadzdzin yang jujur, atau ijtihad yakni usaha pribadi, atau salah satu sebab apa juga yang bisa menghasilkan ilmu dan keyakinan.2. Suci dari hadats kecil dan hadats besar.Dalam hal ini, kita dianjurkan untuk bersuci dulu, yakni bisa dengan wudhu ataupun tayamum.3. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis yang kelihatan, bila itu mungkin.Jika tak dapat dihilangkan, boleh shalat dengannya, dan tidak wajib mengulang.Mengenai suci badan misal dari air kencing, madzi darah (bagi wanita).Suci pakaian yang dimaksud adalah bahwa pakaian yang dipakai untuk shalat harus bersih dari najis.4. Menutup eaurat.Batas 'Aaurat Laki-LakieAurat yang wajib ditutupi oleh laki-laki sewaktu shalat, ialah kemaluan dan pinggul. Mengenai yang lain yakni paha, pusat dan lutut, maka terdapat pertikaian disebabkan bertentangannya hadits-hadits tentang hal itu. Ada yang mengatakan bahwa itu tidaklah eaurat, dan ada pula yang mengatakan eaurat. Namun, alangkah baiknya kita untuk berhati-hati sehingga ketika mengerjakan shalat sebisa mungkin menutupi pusar dan lutut.Batas eAurat WanitaSeluruh tubuh perempuan itu eaurat yang wajib bagi mereka untuk menutupinya, kecuali muka dan kedua telapak tangan.Pakaian yang wajib dikenakan itu ialah yang menutupi eaurat walaupun sempit dan hanya cukup menutupi eaurat. Jika tipis dan terbayang warna kulit maka tidak boleh shalat dengan itu. Dan disunatkan shalat dengan memakai dua macam pakaian atau lebih dan sedapat mungkin agar berhias atau bersolek.5. Menghadap kiblat.Para ulama telah sepakat bahwa orang yang mengerjakan shalat itu menghadap Masjidil Haram, karena firman Allah dalam Qs. Al Baqarah : 144.Bagi orang yang tidak mengetahui arah kiblat, wajib bertanya kepada orang yang tahu. Dan seandainya tidak ada, hendaklah ia berijtihad dan mengerjakan shalat menurut arah yang dihasilkan oleh ijtihadnya itu. Shalatnya sah dan tidak wajib diulangi, bahkan walaupun ternyata salah setelah selesai shalat. Jika kekeliruan itu diketahui sementara shalat, hendaklah ia berputar ke arah kiblat tanpa memutus shalatnya.Gugurnya kewajiban menghadap kiblat bila:Shalat bagi orang yang berkendaraan.Shalat bagi orang yang dipaksa, dalam keadaan sakit dan ketakutan.C. Fardhu-Fardhu ShalatShalat mempunyai rukun-rukun dan fardhu sehingga bila kita tertinggal salah satunya maka shalat dianggap tidak sah menurut syaraf. Perinciannya yaitu:1. Niat2. Takbiratufl Ihram3. Berdiri pada shalat fardhuHukumnya wajib berdasarkan Kitab, Sunnah dan Ijmaf bagi orang yang kuasa. Dan mengenai hal ini telah disepakati para ulama, sebagaimana mereka sepakat pula atas sunatnya merenggangkan telapak kaki sewaktu berdiri itu.Berdiri di Waktu Shalat SunatMengenai shalat sunat, boleh dilakukan sementara duduk, walaupun seseorang itu kuasa berdiri, Hanya, pahala orang yang berdiri lebih sempurna daripada orang yang duduk.Tak Kuasa Berdiri Pada Shalat FardhuOrang yang tak kuasa berdiri pada shalat fardhu, hendaklah ia shalat menurut kemampuannya, dan orang tersebut tetap akan memperoleh ganjaran penuh tanpa kurang sedikitpun.4. Membaca Al-FatihahHukumnya wajib/fardhu pada setiap rakafat shalat fardhu maupun shalat sunat. Dan hadits-haditsnya shahih sehingga tidak ada alasan untuk bertikai faham.5. RukufHukumnya fardhu, berdasarkan firman Allah dalam Qs. Al-Hajj: 77, rukuf dikatakan terlaksana bila membungkukkan tubuh dimana kedua tangan mencapai kedua lutut. Dalam hal ini diharuskan thumafninah, artinya berhenti dengan tenang.6. Bangkit dari rukuf dan berdiri lurus (Iftidal) dengan thumafninah7. SujudSujud pertama dengan thumafninah kemudian bangkit duduk dengan thumafninah, kemudian sujud kedua dengan thumafninah, merupakan fardhu pada setiap rakafat shalat baik shalat fardhu maupun shalat sunat.Batas ThumafninahThumafninah ialah ketenangan sementara waktu setelah stabil atau mantapnya kedudukan anggota, yang jangka waktunya oleh ulama ditaksir sekurang-kurangnya selama membaca satu kali tasbih.Anggota-anggota SujudAntara lain: muka, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua telapak kaki.8. Duduk yang akhir sambil membaca tasyahud9. Memberi salamHukumnya fardhu pada salam pertama dan disunatkan pada salam kedua. Dan jika seseorang memberi salam hanya satu kali, disunatkan baginya melakukan itu ke arah depan, dan jika dua kali, maka yang pertama ke sebelah kanan dan yang kedua ke sebelah kiri. Pada masing-masingnya hendaklah ia menoleh atau berpaling, hingga orang-orang yang di sebelahnya dapat melihat pipinya.D. Sunat-Sunat ShalatAda beberapa sunat shalat, yaitu:1. Mengangkat kedua belah tanganDisunatkan mengangkat kedua belah tangan pada empat ketika:a. Sewaktu takbiratufl ihramCaranya: Mengangkat tangan setentang dengan kedua bahu, hingga ujung-ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari dengan ujung bawahnya, serta kedua telapak tangan dengan kedua bahu.Saat mengangkatnya itu bersamaan waktunya dengan mengucapkan takbiratufl ihram.b. Sewaktu rukufc. Sewaktu bangkit dari rukufd. Sewaktu bangkit hendak melakukan rakafat ketiga2. Menaruh tangan kanan di atas tangan kiri3. Tawajjuh atau dofa iftitahDisunatkan bagi orang shalat mengucapkan salah satu di antara dofa yang pernah diucapkan oleh Nabi SAW., dan dibacanya sebagai pembukaan bagi shalat, yakni setelah takbiratufl ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah.4. IstifadzahYaitu membaca afudzu billah setelah dofa iftitah dan sebelum membaca Al-Fatihah dan disunatkan membacanya dengan cara lunak atau sir. Serta disyarifatkan pada rakafat yang pertama.5. Membaca AminDisunatkan bagi setiap orang yang shalat, baik ia sebagai imam atau makmum atau shalat seorang diri, mengucapkan amin setelah bacaan Al-Fatihah, dengan secara jahar pada shalat yang dijaharkan, dan secara sir pada shalat-shalat yang disirkan. Juga disunatkan membacanya bersamaan dengan imam (jika menjadi makmum), tidak mendahului dan tidak pula terbelakang.6. Membaca Al-Qurfan setelah Al-FatihahDisunatkan bagi orang yang shalat membaca sebuah surat atau beberapa ayat Al-Qurfan setelah membaca Al-Fatihah, yakni pada kedua rakafat shalat Shubuh dan Jumfat, serta pada kedua rakafat pertama dari shalat Dhuhur, eAshar, Maghrib dan eIsya, serta pada semua rakafat shalat sunat.7. Membaca takbir sewaktu berpindahSunat membaca takbir setiap kali bangkit dan turun, berdiri dan duduk, kecuali sewaktu bangkit dari rukuf, maka dibaca gSamifallahu liman hamidah"8. Tata cara rukufDisunatkan menyamaratakan kepala dengan tulang pinggul, bertelekan dengan kedua tangan di atas kedua lutut dengan merenggangkannya dari pinggang, mengembangkan jari-jari atas lutut dan pangkal betis, serta mendatarkan punggung.9. Bacaan sewaktu rukufDisunatkan dalam rukuf itu dzikir dengan lafadh gSubhana rabbiyal eadhimh (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Besar).Adapun lafadh gSubhana rabbiyal eadhimi wa bihamdihh, maka diterima dari beberapa sumber, tapi semuanya lemah.10. Bacaan sewaktu bangkit dari rukuf dan ketika eitidalDisunatkan bagi orang yang shalat, baik ia sebagai imam, makmum atau shalat seorang diri agar membaca ketika bangkit dari rukuf gSamifallahu liman hamidahh (Allah mendengar akan orang yang memujiNya). Kemudian bila ia telah berdiri lurus hendaklah membaca gRabbana walakaflhamduh (Ya Tuhan kami, dan bagi-Mulah puji-pujian).11. Cara turun ke bawah buat bersujud dan cara bangkitJumhur berpendapat disunatkannya meletakkan kedua lutut ke lantai sebelum kedua tangan, kemudian baru kedua tangan, lalu kening dan hidung.12. Tata-cara sujudDisunatkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:Merapatkan hidung, kening dan kedua tangan ke lantai, dengan merenggangkannya dari pinggang.Meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua telinga atau kedua bahu.Agar melepaskan jari-jarinya secara rapat.Menghadapkan ujung-ujung jari ke arah kiblat.13. Jangka waktu sujud dan bacaan-bacaannyaDisunatkan pada saat sujud membaca gSubhana rabbiyal aflah (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi).
Dan selayaknya bacaan tasbih di waktu rukuf dan sujud itu tidak kurang dari tiga kali tasbih. Adapun minimal, maka menurut Jumhur paling sedikit lama waktu rukuf dan sujud yang memadai itu, ialah selama membaca satu kali tasbih. Mengenai tasbih yang sempurna, diperkirakan oleh sebagian ulama sebanyak sepuluh kali.14. Tata cara duduk di antara dua sujudMenurut sunah, duduk di antara dua sujud itu ialah secara iftirasy, yakni dengan melipat kaki kiri, lalu mengembangkan dan duduk di atasnya, dengan menegakkan telapak kaki kanan sambil menghadapkan ujung-ujung jarinya kea rah kiblat.Dofa diantara dua sujud:Disunatkan di antara dua sujud itu membaca dofa diantara kedua dofa berikut, dan jika mau boleh diulang-ulang, yakni:Diriwayatkan dari Huzaifah oleh Nasafi dan Ibnu Majah:gBahwa Nabi SAW. biasa membaca di antara dua sujud: gRabbifghfir li, rabbifghfir li!h(Tuhanku, ampunilah daku! Tuhanku, ampunilah daku!).hDan Abu Daud telah meriwayatkan pula dari Ibnu eAbbas r.a.:gBahwa Nabi SAW. diantara dua sujud itu membaca: gAllahummafghfir li, wafrhamni, wafafini, wafhdini, wafrzuqni.h *)(Ya Allah, ampunilah daku, beri rahmatlah daku, sehatkan daku, tunjuki daku, dan beri rezekilah daku!).h*) Turmudzi juga meriwayatkannya, tapi di sana terdapat wafjburni sebagai ganti wafafini.15. Duduk beristirahat Yaitu duduk sebentar waktu yang dilakukan oleh orang yang shalat setelah selesai dari sujud kedua pada rakafat pertama, menjelang berbangkit ke rakafat kedua, dan setelah selesai dari sujud kedua pada rakafat ketiga, menjelang berbangkit ke rakafat keempat.Mengenai hukumnya para ulama berbeda pendapat, sebagai akibat dari berbedanya hadits-hadits tentang hal itu.16. Tata tertib duduk waktu tasyahudHendaklah di saat duduk waktu tasyahud itu dijaga sunat-sunat berikut:* Hendaklah tangan kiri diletakkan di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas lutut kanan dan dibuat ikatan 53 1 (maksudnya digenggamnya jari-jarinya, dan ditaruhnya ibu jarinya pada pergelangan tengah di bawah telunjuk), serta menunjuk dengan jari telunjuknya.* Agar memberi isyarat dengan telunjuk kanan dengan membungkukkannya sedikit sampai memberi salam.* Agar duduk iftirasy pada tasyahud pertama, dan duduk tawarruk pada tasyahud akhir. Duduk tawarruk maksudnya: menegakkan kaki kanan sambil menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat dan melipatkan kaki kiri di bawahnya sambil duduk dengan panggul di atas lantai.17. Tasyahud pertamaJumhur ulama berpendapat bahwa duduk tasyahud pertama itu hukumnya sunat.18. Shalawat Nabi SAW.Disunatkan bagi orang yang shalat untuk membaca shalawat bagi Nabi SAW. pada tasyahud akhir. Adapun bacaannya:gAllahumma shallifala Muhammad wafala ali Muhammad, kama shallaita eala Ibrahim, wabarik eala Muhammad wa eala ali Muhammad, kama barakta eala ali Ibrahim, fil ealamina innaka hami-dufmmajid.h19. Dofa setelah tasyahud akhir dan sebelum salamDisunatkan membaca dofa setelah tasyahud akhir an sebelum salam mengenai kebaikan dunia akhirat.20. Dzikir dan dofa setelah memberi salamE. Hal-hal yang Dimakruhkan Dalam ShalatSeseorang yang sedang shalat dimakruhkan meninggalkan salah satu sunat diantara sunat-sunat shalat yang telah disebutkan di muka. Selain itu dimakruhkan pula hal-hal berikut:1. Mempermainkan baju atau anggota badan, kecuali bila ada keperluan.2. Bertolak pinggang.3. Menengadah ke atas.4. Melihat sesuatu yang dapat melalaikan.5. Memejamkan mata. Tetapi kalau dengan membuka mata jadi terganggu, misalnya di depannya ada ukiran, lukisan dll., maka memejamkan mata itu tidak saja diperbolehkan, bahkan jika ditinjau dari kehendak syaraf, lebih kuatlah dikatakan sunat daripada makruh.6. Memberi isyarat dengan tangan ketika salam.7. Menutup mulut dan menurunkan kain ke bawah.8. Shalat di depan makanan yang telah terhidang. Berkata jumhur: gSunat mendahulukan makan daripada shalat, jika waktunya cukup lapang. Jika waktu sempit, maka haruslah mendahulukan shalat.h Menurut Ibnu Hazmin dan sebagian golongan Syafifi, hendaklah didahulukan makan, walau waktu sempit sekalipun.9. Menahan kencing atau buang air besar atau hal-hal lain yang mengganggu ketentraman.10. Shalat di waktu sedang mengantuk.11. Menetapkan tempat shalat yang khusus di mesjid kecuali imam.F. Hal-hal yang Membatalkan ShalatShalat itu menjadi batal dan hilang maksud-tujuannya karena melakukan perbuatan-perbuatan berikut:
1 & 2. Makan dan minum dengan sengaja.3. Berkata-kata dengan sengaja dan bukan untuk kepentingan shalat.4. Bergerak banyak dengan sengaja.5. Sengaja meninggalkan sesuatu rukun atau syarat shalat tanpa eudzur.6. Tertawa dalam shalat.IV. SALAT DALAM PERJALANANA. Mengqashar Shalat Yang Empat RakafatShalat yang boleh diqashar adalah shalat yang empat rakafat, yaitu Dhuhur, eAshar dan eIsya.Berkata Ibnul Qayim: gJikalau bepergian, Rasulullah SAW. Selalu mengqshar shalat yang empat rakafat dan mengerjakannya hanya dua-dua rakafat, sampai beliau kembali ke Madinah.hTidak diketemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap mengerjakannya empat rakafat. Hal ini tidak menjadi perselisihan imam-imam, walau mereka berlainan pendapat tentang hukum mengqashar.Mengenai jarak bolehnya mengqashar adalah tiga mil (Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Baihaqi meriwayatkan dari Yahya bin Yazid).B. Menjamaf Dua ShalatDibolehkan seseorang itu merangkap shalat Dhuhur dengan eAshar dan menjamaf shalat Maghrib dengan eIsya, baik secara taqdim (mengerjakan dua buah shalat pada waktu shalat pertama) maupun tafkhir (mengerjakannya pada waktu shalat kedua/diundurkan).Alasan-alasan menjamaf shalat:1. Menjamaf di eArafah dan Muzdalifah.Para ulama sependapat bahwa menjamaf shalat Dhuhur dan eAshar secara taqdim pada waktu Dhuhur di eArafah, begitupun antara shalat Maghrib dan eIsya secara tafkhir di waktu eIsya di Muzdalifah, hukumnya sunat, berpedoman pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.2. Menjamaf dalam bepergian.3. Menjamaf di waktu hujan.4. Menjamaf sebab sakit atau eudzur.5. Menjamaf sebab ada keperluan.C. Shalat Dalam KendaraanMengerjakan shalat dalam kendaraan, menurut cara yang mungkin dilakukan hukumnya sah tanpa makruh sama sekali. Boleh dilakukan dengan berdiri (misal di dalam kapal) maupun duduk (misal di dalam bus atau kereta). Dan arah kiblatnya menurut arah jalannya kendaraan itu.Diterima dari Ibnu Umar, katanya:gNabi SAW. ditanya perihal shalat di atas kapal, maka ujar beliau: gShalatlah di sana dengan berdiri, kecuali bila engkau takut tenggelam!.h (Diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim menurut syarat Bukhari dan Muslim)V. SHALAT BERJAMAfAHA. HukumSebagian ulama berpendapat, shalat berjamafah itu adalah fardhu eain. Sebagian lagi berpendapat bahwa shalat berjamafah itu adalah fardhu kifayah dan sebagian lagi berpendapat sunnat muakkad (sunat yang diutamakan).Shalat lima waktu bagi laki-laki , berjamafah di masjid lebih baik daripada di rumah, kecuali shalat sunnat, maka di rumah lebih baik. Bagi perempuan shalat di rumah lebih baik karena lebih aman bagi mereka.Sabda Rasulullah SAW. : g Hai Manusia shalatlah kamu di rumah masing-masing, sesungguhnya sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, terkecuali shalat lima waktu maka di masjid lebih baikh (HR. Bukhari dan Muslim).Sabda Rasulullah SAW. : gJanganlah kamu larang perempuan-perempuan ke masjid, walaupun rumah mereka lebih baik bagi mereka buat beribadahh (HR. Abu Daud).B. Susunan MakmumKalau makmum hanya seorang, hendaklah ia berdiri di sebelah kanan imam. Sedangkan jika dua orang atau lebih supaya di belakang imam.Sabda Rasulullah SAW.: hDari Jabir bin Abdullah berkata bahwa pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW shalat maghrib, maka saya datang lalu berdiri di sebelah kirinya, maka beliau mencegah aku dan menjadikan aku di sebelah kanannya, kemudian datang temanku, maka kami berbaris di belakangnya.h (HR. Abu Dawud).C. MasbuqMasbuq yaitu orang yang mengikuti kemudian, ia tidak sempat membaca fatihah bersama imam pada rakafat pertama.Hukumnya, jika ia takbir sewaktu imam belum rukuf, hendaklah ia membaca Al Fatihah seberapa mungkin. Apabila imam rukuf sebelum habis Fatihahnya, maka hendaklah ia rukuf pula mengikuti imam. Atau di dapatinya imam sedang rukuf, maka hendaklah ia rukuf pula.Apabila masbuq mendapati imam sebelum rukuf atau sedang rukuf dan ia dapat rukuf yang sempurna bersama imam, maka ia mendapat satu rakafat, berarti shalatnya itu terhitung satu rakafat. Kemudian ditambah kekurangan rakafatnya jika belum cukup, sesudah imam memberi salam.Sabda Rosulullah SAW.: gJika seseorang diantara kamu datang shalat sewaktu kami sujud, maka hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rakafat, dan barang siapa yang mendapati rukuf beserta imam, maka ia telah mendapati satu rakafat.h (HR. Abu Daud)"V. PUASAA. Syarat Wajib Puasa1. Berakal, orang yang gila tidak wajib berpuasa.2. Baliqh.3. Kuat berpuasa. Orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua atau sakit, tidak wajib berpuasa.B. Tata Cara (Rukun) Puasa1. Berniat pada malamnya, tiap-tiap malam selama bulan Ramadhan.2. Menahan dari yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.C. Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa1. Makan dan minum.2. Muntah dengan usaha yang disengaja.3. Gila. Jika datangnya gila pada siang hari, maka batallah puasanya.D. Sunat Puasa1. Menyegerakan berbuka apabila telah nyata atau yakin bahwa matahari telah terbenam.2. Berbuka dengan korma, atau sesuatu yang manis, atau dengan air.3. Berdofa sewaktu berbuka puasa, yaitu : gAllaahumma laka shumtu wabika aamantu wafalaa rizqika afthortu dzahabadh-dhoma-u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah.h Artinya : Ya Allah karena Engkau aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka, dahaga telah hilang, urat-urat telah segar dan mudah-mudahan pahala tetap dilimpahkan.4. Mengakhirkan makan sahur.Materi Ibadah ini disusun oleh Tim Guru TPA Al-Hijrah Fukuoka

0 komentar:

Posting Komentar

 
;